Selasa, 20 September 2011

MENYUSUN ALINEA


Pengertian Alinea

Alinea atau sering disebut juga paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru.Pada umumnya alinea terdiri dari lebih dari satu kalimat atau dapat dikatakan terdiri dari beberapa kalimat. Dari segi fungsi dan kandungannya, kalimat dalam alinea dapat dipilah-pilah menjadi beberapa bagian yaitu :

1. Kalimat Topik
 Kalimat topik merupakan bagian yang terpenting dalam sebuah alinea/paragraf karena kalimat topik mengungkapkan gagasan pokok dalam kalimat yang bersangkutan. Kalimat topik hendaknya merupakan kalimat efektif yang menarik, merupakan susunan yang runtut dan logis dan juga merupakan rumusan yang tidak terlalu umum namun juga tidak terlalu spesifik.
2. Kalimat Pengembangan
Kalimat pengembangan merupakan kalimat-kalimat yang menguraikan hal-hal yang terkandung dalam kalimat topik. Kalimat-kalimat pengembangan itu hendaknya berpusat pada kalimat topik agar terciptanya suatu gagasan dan juga agar tidak terjadinya kalimat-kalimat pengembangan yang menyeleweng dari kalimat topik. Untuk menghindari hal tersebut diperlukan perumusan butir-butir pengembangan secara ringkas di bawah kalimat topik sehingga bisa terbentuk alinea/paragraf yang baik.
3. Kalimat Penutup
Setelah pengembangan dari kaliat topik itu sampai pada batas kecukupan, maka sebuah alinea/paragraf itu sebaiknya diakhiri. Kalimat yang mengakhiri alinea itu disebut kalimat penutup. Demi terwujudnya kesatuan gagasan, penyusunan kalimat topik hendaknya berdasarkan kalimat-kalimat pengembangan. Kalimat penutup dalam suatu alinea/paragraf biasanya dapat berupa penekanan kembali, kesimpulan dan rangkuman. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kalimat penutup didasarkan dari kalimat topik dan juga kalimat-kalimat pengembangan. 
4. Kalimat Penghubung
Agar suatu alinea dapat terhubung dengan alinea yang lain maka diperlukan adanya kalimat penghubung. Hubungan antara alinea yang satu dengan alinea yang lain hanya dapat diketahui dari hubungan isi alinea tersebut. Oleh karena itu, kalimat penghubung itu dalam alinea tertentu diperlukan, dan dalam alinea yang lain tidak diperlukan. Maksudnya adalah, tidak dalam setiap alinea terdapat kalimat penghubung.


PENGERTIAN ALINEA


Alinea adalah satu kesatuan pikiran, satu kesatuan yang lebih tinggi dari sebuah kalimat .
Alinea merupakan himpunan yang saling berkaitan untuk membuat sebuah gagasan dari sang penulis. Dari pembentukan sebuah alinea harus mempunyai tujuan dimana sang penulis harus menceritakan idenya kedalam suatu cerita dan menegaskan perhatian secara wajar diakhir kalimat.
Syarat-syarat pembentukan Alinea:
1. Kesatuan: Semua kalimat yang mendukung alinea secara bersama-sama mendukung sebuah ide.
2. Koherensi: Saling berhubungan sebuah kalimat dengan kalimat lainnya yang membentuk sebuah alinea.
3. Pengembangan: Sebuah alinea memiliki pengembangan gagasan/ide dengan menggunakan kalimat pendukung.
4. Efektif: Dengan penggunaan kalimat yang efektif, maka ide akan disampaikan secara tepat.
Pola Pengembangan Alinea
a. Alinea deduktif : Kalimat utamanya terdapat pada bagian awal kalimat.
b. Alinea induktif : Kalimat utamanya terdapat pada bagian akhir kalimat.
c. Alinea campuran : Kalimat utamanya terletak di awal dan ditegaskan kembali pada bagian akhir.
d. Alinea diskriptif : Kalimat utama yang tersirat pada seluruh kalimat di paragraph tersebut.
Disetiap alinea pasti ada kalimat yang saling berhubungan dengan kalimat lainnya. Maka pada saat melakukan penulisan, kita harus memiliki dua buah kalimat penting yaitu kalimat utama dan kalimat penjelas.
-Kalimat Utama
Biasanya kalimat utama diletakkan pada awal kalimat, tetapi kalimat utama bisa diletakkan ditengah maupun diakhir kalimat. Kalimat utama adalah kalimat inti dari sebuah gagasan yang berisi sebuah pernyataan dan akan dijelaskan oleh kalimat penjelas.
-Kalimat Penjelas
Kalimat Penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan ide dari kalimat utama suatu paragraph.
Sumber: fusliyanto.wordpress.com/kumpulan-materi-bahasa-indonesia-3
organisasi.org/pengertian_paragraf_alinea_dan_bagian_dari_paragraf_bahasa_indonesia

Macam-macam Alinea

Setelah pada blog sebelumnya saya menjelaskan tentang Penjelasan Alinea, sekarang saya akan menjelaskan tentang macam-macam dari alinea tersebut.

Macam-macam alinea itu ada tiga yaitu :

1. Alinea Pembuka
Alinea pembuka merupakan bagian dari sebuah wacana atau karangan yang paling pertama kita temui. oleh karena situ, sebaiknya alinea pembuka itu disusun secara menarik agar memunculkan rasa ingin tahu kepada para pembaca. Dalam alinea pembuka sangat diharapkan dapat membimbing para pembaca untuk memasuki suatu jalan cerita atau isi dari wacana atau dengan kata lain alinea pembuka ini menyiapkan para pembaca untuk memasuki alinea isi. Rumusan alinea pembuka yang baik akan menjadi pedoman untuk pengembangan karangan menuju tingkat selanjutnya. Dengan pedoman itu maka akan tercapainya suatu kepaduan pada dalam sebuah wacana atau karangan.

2. Alinea Isi
Alinea isi merupakan suatu ide pokok beserta pengembangannya dalam sebuah wacana atau karangan. Oleh karena itu, alinea isi merupakan bagian yang esensial dalam suatu wacana atau karangan. Maksudnya adalah alinea isi menjelaskan dengan cara menguraikan bagian-bagian ide pokok tersebut. Dalam menjelaskannya harus disusun dengan berurutan dan sesuai dengan asas-asas penalaran yang masuk akal atau logis.

3. Alinea Penutup
Alinea penutup merupakan alinea-alinea yang mengakhiri atau menutup suatu wacana atau karangan. Alinea ini merupakan kebulatan dari masalah-masalah yang dikemukakan pada bagian wacana atau karanan sebelumnya. Selain itu alinea penutup juga harus mengandung kesimpulan yang benar-benar mengakhiri uraian wacana atau karangan tersebut. Karena bertugas untuk mengakhiri suatu wacana, maka alinea penutup yang baik ialah yang tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak terlalu pendek. Akan tetapi, alinea penutup harus menimbulkan kesan tersendiri bagi para pembaca.

Untuk menciptakan sebuah wacana atau karangan yang baik diperlukan ketiga aspek tersebut agar para pembaca dapat membaca dan mengerti arti dari wacana atau karangan yang kita buat. Selain itu kita harus membaca terlebih dahulu wacana atau karangan yang kita buat agar kita tahu dimana letak kesalahan kita supaya kita dapat memperbaiki tau merevisi karangan kita sebelum dibaca oleh banyak orang.


C. Koreksi Kesalahan Kalimat
1. Kesalahan kalimat
a. Kesalahan intrernal
Kesalahan internal adalah kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam kalimat. Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe. Tipe pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis sebagaimana tampak pada contoh berikut :
1. Dengan pemakaian pupuk urera pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.
2. Kepada semua informan mendapatkan dua macam instrumen yaitu angket dan catatan kegiatan.

Kedua kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak logis. Untuk membuktikan itu dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi setiap kalimat itu.
Pada kalimat (1) jika dipertanyakan dengan kalimat Apa yang menyuburkan tanaman?, jawaban tidak dapat dicari dalam kalimat itu. Barulah jawaban dapat ditemukan jika frasa dengan pemakaian dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi Pupuk Urea Pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.
Pada kalimat (2) jika dipertanyakan dengan kalimat siapa yang mendapatkan dua macam instrumen? Maka jawaban tidak dapat dicari, jawaban terhadap kalimat itu baru dapat diarahkan ke semua informan jika kalimat di ubah menjadi Semua informan mendapatkan dua macam instumen, yaitu angket dan catatan kegiatan.
b. Kesalahan Eksternal
Kesalahan eksternal adalah kesalahan yang diukur dari unsur luar kalimat yang bersangkutan. Di sini kesalahan eksternal di ukur dari kalimat-kalimat lain yang menjadi konteks atau lingkungannya.
Contoh :
Proyek lembah Dieng terletak di dukuh Sumberejo, desa Kalisungo yang termasuk dalam daerah Kabupaten Malang. Daerah Malang yang sejuk terdiri dari pegunungan-pegunungan kecil.

Dua buah kalimat paragraf tersebut benar secara internal, tetapi salah secara eksternal, karena tidak membentuk satu gagasan yang utuh dan padu dalam paragraf.
2. Membetulkan kesalahan kalimat
ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat :
a. Kalimat tanpa subjek
Dalam menyusun sebuah kalimat, sering kali dengan kata depan atau preposisi, lalu verbanya menggunakan bentuk aktif atau berawalan me- baik dengan atau tanpa akhiran –kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat salah seperti di bawah ini.
1. Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2. Dengan beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.

Untuk membetulkan kalimat di atas dapat dilakukan dengan
1. menghilangkan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau
2. mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif.
Jadi kemugkinan pembetulan kalimat di atas adalah :
1. Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2. Beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.

Dalam pembetulan kalimat di atas, maka subjeknya menjadi lebih jelas, yaitu berturut-turut adalah yang merasa kehilangan buku tersebut dan beredarnya koran masuk desa.
b. Kalimat dengan objek berkata depan
kesalahan pemakaian kata depan juga sering ditemui pada objek.
Sebagai contoh:
1. Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu.
2. Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosannya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan waduk itu.

Dua kalimat di atas dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai pada kalimat (1) dan tentang pada kalimat (2).
Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan paduan, misalnya:
Bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang, menyesal atas, keluar dari, sesuai dengan serupa dengan.

c. Konstruksi pemilik kata depan
Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa : termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya :
Kebersihan lingungkungan adalah kebutuhan dari warga
Buku-buku daripada perpustakaan perlu ditambah.
Kontruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada perpustakaan ini sering kita dengar perlahan dalam pidato-pidato (umumnya tanpa teks), misalnya :
Biaya dari pembangunan jembatan ini; kenaikan daripada harga-harga barang elektronik.

Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku sepeti di atas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit.
d.. Kalimat yang ‘pelaku’ dan verbanya tidak bersesuaian
Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah satu ‘pelakunya’ tidak tercantumkan.
Contoh :
1. Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya.
2. Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan sampai berjam-jam
Dalam kalimat (1) verba berpukul-pukulan menuntut hadirnya dua pelaku, yaitu dia dan orang lain, misalnya Joni.
Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan Joni.
Demikian pula kalimat (2), di samping pelaku dia diperlukan hadirnya pelaku lain sebagai mitra diskusi, misalnya para pakar, sehingga kalimat (2) menjadi :
Dalam seminar itu, dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan dengan para pakar.

e. Penempatan yang salah kata aspek pada kalimat pasif berpronomina
Menurut kaidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomian + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronominal. Kesalahan yang sering terjadi adalah penempatan aspek diantara pronominal dengan verba atau dalam pola : “pronominal + aspek + verba dasar”. Contoh :
Saya sudah katakan bahwa…
Bentuk seperti contoh di atas dapat dibentulkan dengan memindahkan kata aspek ke depan pronominal menjadi :
sudah saya katakan bahwa…

f. Kesalahan pemakaian kata sarana
Dalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, dan kata penghubung pada umumnya terdapat pada kalimat mejemuk baik yang setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada dan dalam, ketiga kata depan tersebut sering dikacaukan, misalnya :
Di saat istirahat penyuluh mendatangi para petani (pada saat)
Benih itu ditaburkan pada kolam yang baru (ke dalam)
Dalam tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI (di)
Adapun kesalahan pemakaian kata penghubung umumnya terjadi karena ketidaksesuaian antara pemakaian kata penghubung dan makna hubungan antar klausanya,
Rapat hari ini ditunda karena peserta tidak memenuhi kuorum
Rapat hari ini ditunda sebab perserta tidak memnuhi kuorum

D. Cara Membuat Ringkasan Teks
Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah dalam yang berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat ringkasan teks terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuatan ringkasan. Berikut ini bebrapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur :
1. Membaca naskah asli
Bacalah naskah asli agar dapat mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh.
2. Mencatat gagasan utama
3. mengadakan reproduksi
yaitu urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya.
Selain melakukan tiga hal diatas, juga terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan juga agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
a) Menyusun kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b) Meringkas kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Dan mengganti rangkaian gagasan yang panjang menjadi gagasan yang sentral.
c) Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada.
d) Mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah.
e) Menentukan panjang ringkasan.
Yaitu dengan cara menghitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan yangn harus ditulisnya.
Contoh ringkasan teks.
Teks 1.
Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan
bus betul-betul menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena
lebih dari separuh calon pemudik diperkirakan akan terangkut oleh bus.
Sementara hanya 1/3 dari seluruh pemudik dari Jakarta dan sekitarnya
diperkirakan menggunakan jasa KA

teks diatas dapat dirigkas menjadi.

Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan bus betul-betul
menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena lebih dari separuh calon pemudik
diperkirakan akan terangkut oleh bus. Sementara hanya 1/3 dari seluruh pemudik dari Jakarta .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar